ACT

Tambang Batubara Era Merdeka Lebih Buruk Dibanding Kolonial Belanda

238

SENGKETA dan bibit-bibit konflik terkandung dalam bara batubara di Kalimantan Selatan. Fakta ini terungkap dalam film dokumenter garapan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan, Friends of the Earth, European Climate Foundation, yang diproduseri Budi ‘Dayak’ Kurniawan dari Padma Borneo Raya Media.

FILM berjudul Bara di Bongkahan Batu yang berdurasi satu jam ini diputar dan ditonton bareng di Café Moonlight Banjarbaru, Kamis (25/5/2017) malam. Film dokumentasi dan investigasi pertama tentang perilaku buruk pertambangan batubara ini sarat dengan kritikan sosial terhadap para pemangku kepentingan, terkhususnya lagi para pelaku tambang ‘emas hitam’ itu di Pulau Kalimantan.

Film ini juga menceritakan sejarah pertama kali batubara ini ditambang di perut bumi Kalimantan Selatan, ketika Gubernur Jenderal Belanda Rachussen datang ke Pengaron, Kabupaten Banjar dan meresmikan tambang pertama di Hindia Belanda bernama Oranje Nassau atau Benteng Emas pada 28 September  1848. Ternyata, perilaku tambang batubara di Kalimantan Selatan ini tak jauh berbeda, bahkan jauh lebih buruk dibandingkan Belanda, yang tersaji dalam film yang digarap serius dengan teknik-teknik investigasi para aktivis lingkungan dan jurnalis kawakan.

Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono mengatakan dalam pertarungan tambang batubara di Kalimantan Selatan, yang menjadi korban selalu masyarakat dan rakyat kecil.
“Film ini menjadi semacam peringatan bagi para pengambil kebijakan di tingkat manapun untuk berhenti memihak perusahaan pertambangan Padahal, seharusnya pemerintah daerah itu justru melindungi rakyat, bukan berpihak kepada koorporasi tambang,” kata Cak Kis-sapaan aktivis lingkungan ini.

Ia menjelaskan film documenter dan investigasi ini juga memberi gambaran yang jelas, betapa energi bara selalu menelan korban, tak hanya masyarakat termasuk lingkungan yang rusak.”Sudah saatnya pemerintah tak lagi memberika peluang dan menggunakan energi tak terbarukan seperti batubara ini dalam kebijakan energi. Mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya” ujar Cak Kis.

Senada itu, Manajer Kampanye dan Data Walhi Kalsel, Rizqi Hidayat mengungkapkan pembuatan film documenter dan investigasi ‘Bara di Bongkahan Batu’ yang digarap Walhi Kalsel dan Padma dengan titik berat pada nasib korban.”Korban yang jatuh sudah banyak. Tak ada salahnya, para pengambil kebijakan menyelamatkan para korban” kata Rizqi.

Menurutnya, film ‘Bara di Bongkahan Batu’ ini selain menyoroti kabupaten yang telah rusak akibat pertambangan batubara, juga menggambarkan masih adanya harapan. Harapan itu kini tertumpu pada Pegunungan Meratus. “Penolakan pemerintah lokal dan masyarakat Meratus yang turut bisa menyelamatkan Banua. Kalau di luar Meratus, Banua ini sudah berantakan” cetus Rizqi Hidayat.(jejakrekam)

Penulis  :  Ahmad Husaini

Editor    :  Didi G Sanusi

Foto       : Ahmad Husaini

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.