Era Hanafiah Demi Air Bersih, Pemerintah Perancis Bawa Proyek Hibah

Foto : Dok Pemkot Banjarmasin

BANJARMASIN selalu diidentikkan dengan Banjar yang airnya selalu asin. Itu ketika musim kemarau melanda kota yang menjelang usianya 5 abad ini. Namun, berkat kepiawaian seorang Direktur PDAM pertama, H Hanafiah yang kemudian menjadi Walikota Banjarmasin, sentuhan modernisasi pengelolaan air tawar menyapa.

GONJANG-ganjing perpolitikan di era transisi kepemimpinan Soekarno yang terkomando ke masa militeristik Soeharto sekitar 1963, justru seorang Hanafiah mampu menebus dunia birokrasi internasional. Ya, Hanafiah ketika itu merupakan Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin yang pertama, usai seorang pejabat Jepang yang pulang ke negeri leluhurnya, meninggalkan beragam fasilitas yang telah dibangun di era kolonial Belanda, pendudukan Jepang hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia. Dulu, bangunan rumah dinas direktur PDAM Bandarmasih di Jalan Achmad Yani Km 2,5 Banjarmasin merupakan kantor direksi PAM era pendudukan Jepang.

“Dulu, ayah saya merupakan Direktur PDAM Banjarmasin yang pertama. Sewaktu masih dipegang orang Jepang, ayah saya menjadi wakil direkturnya. Begitu diserahkan, ayah saya memimpin perusahaan air minum itu. Sebelumnya hanya Dinas Saluran Air Minum Banjarmasin,” cerita Addy Chairuddin Hanafiah kepada jejakrekam.com, di Banjarmasin, Kamis (18/5/2017).

Putra Walikota Banjarmasin Hanafiah ini masih ingat, ketika sang ayah harus berjibaku di tengah ketidakpastian dunia politik di era peralihan Orde Lama ke Orde Baru. “Waktu itu, saya sudah duduk di bangku SMP. Jadi, saya ingat betul cerita ayah saya,” kata Addy Chairuddin. Atas dorongan kondisi Banjarmasin yang selalu dikepung air asin yang tinggi di musim kemarau, serta kesulitan mencari air baku tawar untuk diolah menjadi air yang layak dipakai, Hanafiah pun bertolak ke Jakarta. Ia menemui Kedutaan Perancis di Jakarta.

Rupanya, nasib PDAM Banjarmasin itu mujur. Sama seperti PDAM Surabaya pada 1959 telah mendapat bantuan hibah dari Pemerintah Perancis lewat badan usahanya bernama FA Degremont. PDAM Surabay sendiri berhasil membangun IPAM Ngagel II dengan kapasitas 1.000 liter/detik yang langsung didesain dan dilaksanakan para ahli asal negara maju Eropa ini.

“Saya ingat betul dengan adanya bantuan dari Perancis lewat FA Degremont itu, pada 1964 dibangun IPA IA dengan kapasitas 275 liter per detik di Intake Sungai Bilu serta Sungai Tabuk. Semua peralatan seperti pipa dan instalasi langsung didatangkan dari Perancis. Sedangkan yang menggarap proyek itu PT Waskita Karya dengan pengawasan ketat dari konsultan Perancis,” beber Addy Chairuddin, seraya mengkritisi uraian buku sejarah yang ditulis Artum Artha dalam bukunya berjudul Sedjarah Kota Bandjarmasin.

Dengan sentuhan Perancis itu, awalnya hanya Dinas Saluran Air Minum itu naik tingkat menjadi PDAM Banjarmasin. “Waktu itu, sumber air baku di Intake Sungai Bilu. Bangunan dan segala fasilitas itu merupakan warisan dari dana hibah Perancis yang berhasil dibawa ayah saya ke Banjarmasin,” kata mantan Ketua Fraksi Golkar DPRD Kalsel ini.

Addy mengakui kondisi sungai yang ada di Banjarmasin, khususnya Sungai Martapura yang menjadi sumber air baku PDAM, selalu terintrusi air laut ketika musim kemarau melanda. “Makanya, dulu Gelanggang Remaja yang sekarang menjadi GOR Hasanuddin HM di Jalan Pangeran Antasari merupakan tempat penampungan air tawar, ya semacam embung. Jadi, ketika air asin datang, sumber air ini bisa menyuplai warga kota,” katanya.

Teknologi Perancis ini pula yang membuat jaringan pipanisasi terkoneksi dari  Intake Sungai Bilu ke Sungai Tabuk. Addy mengungkapkan jaringan pipa air itu sambung menyambung dari kawasan Kuripan, dan lainnya di pusat kota. “Jadi, ketika musim kemarau datang, pasokan air masih tersedia,” katanya,

Sebagai salah tokoh pejuang, Hanafiah yang merupakan Wakil Ketua Angkatan 45 yang mewakili Hassan Basry, usai Muhammad Talhah diangkat menjadi Walikotamadya Banjarmasin periode 1964-1970.

 “Jabatan ayah saya diperpanjang lagi selama 2 tahun, hingga tahun 1972. Memang betul almarhum Riduan Iman (Walikota Banjarmasin) yang turut membangun jaringan pipa. Tapi, sejak awal, di era ayah saya menjadi Direktur PDAM kemudian menjadi Walikota Banjarmasin merintis awal modernisasi saluran air minum itu dimulai. Ya, dengan bantuan pemerintah Perancis itu,” tuturnya.

Ketua Hiswamigas Kalimantan Selatan ini mengatakan di era Mendagri Amir Mahmud, karena sesama pejuang, Hanafiah mampu menerobos dunia birokrasi nasional dan internasionl. “Waktu itu, pemerintah pusat tak punya dana. Makanya, ayah saya disuruh mendatangi Kedutaan Perancis di Jakarta. Alhamdulillah lobi itu berhasil, hingga dana hibah itu diberikan kepada Banjarmasin. Entah apa pertimbangan Perancis, mungkin akibat kekurangan pasokan air tawar, atau bisa jadi waktu itu hubungan Indonesia dengan negara itu sangat baik,” kata jebolan FISIP Universitas Lambung Mangkurat ini.

Sebagai seorang pejuang, Hanafiah memang sempat ditangkap pemerintah Belanda, bersama Agus Salim di sebuah penjara di Jalan Juanda, Jakarta. “Setelah pulang dari Yogyakarta, ayah saya ditangkap Belanda bersama tokoh-tokoh pejuang dari Yogyakarta di Jakarta. Begitu bebas, ayah saya pulang ke Banjarmasin dan diangkat menjadi wakil direktur PDAM yang ketika itu dikelola orang-orang Jepang di masa pendudukannya di Banjarmasin,” tuturnya.

Addy berharap nilai perjuangan dalam membangun PDAM demi memenuhi hajat orang banyak, terkhusus pemenuhan air tawar yang layak di tengah serbuan air asin di musim kemarau, bisa menyadarkan semua pihak. “Air itu merupakan kebutuhan pokok bagi warga Banjarmasin. Saya tak ingin mendengar air leding justru menjadi ladang bisnis, hingga menyusahkan warga kota selaku pemilik sebenarnya PDAM Bandarmasih itu,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi