ACT

Jangan Bangga Gelar Haji Itu Warisan Kolonial Belanda

0 729

GELAR haji melekat di depan nama seorang yang telah menunaikan ibadah rukun Islam kelima ke Tanah Suci Makkah dan Madinah. Sejak kapan gelar kehormatan itu disandang bagi mereka yang sudah menjalankan rangkaian ibadah dengan puncaknya wukuf di Arafah itu? Apakah sudah ada sejak era kesultanan Islam di Nusantara?

BANDINGKAN dengan orang-orang Arab Saudi yang terbilang bisa saban tahun mengikuti rangkaian ibadah haji? Apakah mereka menambah gelar haji di depan namanya? Ataukah, dari sirah pernah Rasulullah SAW diberi gelar misalkan Haji Muhammad SAW? Atau para sahabat seperti Haji Abubakar Ash-Shidiq, Haji Umar bin Khattab, Haji Utsman bin Affan atau Haji Ali bin Thalib yang merupakan sahabat-sahabat terkemuka.

Dari berbagai literatur yang dikutip jejakrekam.com ternyata gelar haji ini pernah kali menghiasi nama-nama orang Nusantara bermula di era penjajahan kolonial Belanda. Banyak pahlawan Indonesia yang menunaikan ibadah haji seperti Pangeran Diponegoro, HOS Cokroaminoto dan Ki Hajar Dewantara dan lainnya, pualng dari ibadah haji membawa perubahan yang berarti bagi Indonesia ke depan. Hal ini tentu saja merisaukan pihak penjajah Belanda.

Makanya, untuk mengawasi gerak-gerik serta memantau aktivitas para ulama yang datang dari Tanah Suci, diwajibkan menambah gelar haji di depan namanya. Ini dimaksudkan Belanda agar mengetahui yang bersangkutan sudah pernah berhaji ketika kembali ke Tanah Air.

Ketentuan penambahan nama haji ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Belanda lewat Staadblad tahun 1903. Mereka pun mengkhususkan Pulau Onrust dan Pulau Khayangan (sekarang Pulau Cipir) di Kepulauan Seribu, Jakarta menjadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia.

Dari sini, kemudian pemerintah kolonial Belanda mengharuskan gelar H atau haji di depan nama, sehingga memudahkan mereka mencari apabila terjadi pemberontakan. Kebiasaan ini pun turun temurun akhirnya dipakai hingga sekarang, bahkan gelar H atau haji menjadi sebuah kebanggaan. Bagi pria yang sudah berhaji kemudian dipanggil Pak Haji, sedangkan bagi perempuan sebaliknya disebut Bu Hajjah.

Tahukah Anda gelar haji itu sebetulnya konspirasi Belanda untuk menangkap para haji di Nusantara? Ya, di era Belanda, untuk membatasi gerak-gerik dakwah atau umat Islam, makanya segala hal yang menyangkut penyebaran agama, termasuk peribadatan harus mendapat izin dari pemerintah kolonial.

Mereka mengkhawatirkan apabila nanti timbul rasa persaudaran dan persatuan di kalangan rakyat pribumi yang berujung timbulnya pemberontakan kepada pemerintah kolonial belanda. Apalagi, animo umat Islam yang ingin menunaikan ibadah haji di era Belanda sendiri sangat tinggi. Terlebih lagi, rakyat Nusantara (sebelum Indonesia lahir), mayoritas penduduknya adalah pemeluk Islam, sehingga ketika pulang dari Tanah Suci dan bergaul dengan masyarakat internasional, dikhawatirkan akan memicu perubahan di Tanah Air.

Satu contoh adalah ketika pulang Tanah Suci, Pangeran Diponegoro langsung melakukan pemberontakan kepada Belanda. Begitupula, Tuanku Imam Bonjol sepulang dari pergi haji, juga mengumpulkan pasukan Paderi melawan Belanda. Lalu, Muhammad Darwis usai pergi haji, dan pulang dan berganti nama menjadi Ahmad Dahlan mendirikan ormas Islam Muhammadiyah.

Pun, begitu KH Hasyim Asyari sepulang dari Tanah Suci mendirikan ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU). Samanhudi dari pulang haji mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI), Cokroaminoto juga mewariskan Sarekat Islam sehabis meraih titel haji. Hal ini yang merisaukan Belanda.

Untuk memantau dan membatasi gerak-gerik ulama dan tokoh, akhirnya Belanda mengharuskan pencantuman gelar haji di depan nama seperti diatur dalam Staatblad Tahun 1903.  Jadi, gelar haji itu semacam cap bagi pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi mereka yang pulang dari Tanah Suci ke Tanah Air.(jejakrekam)

 

 

Penulis Didi GS/Berbagai Sumber
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.