Pameran Lukisan di Rumah Anno Berubah Jadi Ajang Swafoto

IRONIS. Pameran lukisan yang menjadi bagian Banjarmasin Sasirangan Festival 2017 di Rumah Anno 1925 justru berubah menjadi ajang swafoto (selfie). Akhirnya, ada beberapa lukisan yang dipamerkan dari 30 pelukis, sempat copot dari wadahnya. Larangan untuk memegang karya seni bernilai tinggi pun itu tak diindahkan para pengunjung.

KEPRIHATINAN ini disuarakan pelukis senior Banjarmasin, Anang M Yus yang menyaksikan sendiri karya-karya para pelukis yang seharusnya diapresiasi tinggi justru menjadi ajang swafoto. “Padahal, pameran semacam ini sudah sepatutnya mendapat apresiasi tinggi. Paling tidak, silakan berfoto tapi tidak memegang apalagi seakan tak peduli dengan karya seni orang,” ujar Anang M Yus berbincang dengan jejakrekam.com, Sabtu (18/3/2017) malam.

Dari 43 lukisan yang beraliran realis dan tematik mengenai budaya sungai, urban, serta kaligrafi dan lukisan anak-anak itu, dinilai Anang M Yus bisa menambah pundi-pundi para pelukis, terutama dibeli para kolektor atan instansi pemerintah dan perusahaan sebagai bentuk penghargaan terhadap sebuah karya seni. “Faktanya hal itu tak terjadi. Ironis memang. Padahal, para pelukis itu berharap karya seninya itu dihargai, ya setidaknya dibeli para pejabat atau kolektor. Jadi, bisa dipajang di kantor atau rumah yang bersangkutan. Ini tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi sang pelukis,” ucap pria yang kini berambut ‘perak ‘ ini.

Ia mengakui ada pesan khusus yang disampaikan para pelukis dalam karyanya. “Saya tangkap, ya ada pesan soal modernitas yang menyapa wajah Kota Banjarmasin, seakan telah menghilangkan jati dirinya. Ini pesan yang bisa dinikmati para kolektor atau warga, ketika suasana hening. Tapi, di sini, justru dengan adanya panggung hiburan itu, makin riuh dan seakan tak menghargai arti sebuah karya seni,” kritik Anang M Yus.

Pameran seni lukis Kota Seribu Sungai dengan keindahan yang tak tepermanai berlangsung sejak 17-23 Maret 2017 di Rumah Anno 1925, kawasan Siring Sungai Martapura Jalan Piere Tendean, dibuka secara resmi oleh Walikota Banjarmasin Ibnu Sina pada Jumat (17/3/2017). Banyak pelukis yang ikut serta, bukan hanya dari Banjarmasin dan kota-kota lainnya di Kalsel, tapi juga berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan lainnya. Sebagai kurator seni ditunjuk seniman kawakan, Misbach Tamrin dan Hajransyah dalam menilai karya 28 pelukis yang ikut memamerkan karyanya.

“Kegiatan semacam ini memang harus rutinitas, tapi bukan seremonial. Artinya, dengan adanya pameran ini bisa memberi warna baru bagi para pelukis. Tentu saja, penghasilan bagi mereka sebagai bentuk penghargaan terhadap sebuah karya seni,” tutur Anang M Yus.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin Ikhsan Alhak mengatakan para pelukis yang ikut dalam pameran di Banjarmasin itu bukan hanya seniman Kalsel, tapi juga dari luar Kalsel bahkan yang sudah berkelas nasional hingga internasional. Di antara 30 puluh pelukis yang berpartisipasi itu ada nama Sulistyono dengan karya lukisnya yang bertema “Dialectic of universe”, seniman ini sudah melanglang buana karyanya hingga internasional.Ada pula pelukis senior Kalsel H Rizal Noor dengan karya lukisannya bertema “Bunga-bunga”, Daniel sukamto “Kebudayaan sepanjang masa”, Akmad Noor “Pagi ke sekolah” dan Setyo Budiawan “Setandan Pisang Mahuli”.

Menurut Ikhsan, karya lukis yang dipamerkan ini sekaligus dikomersilkan, sebab bagi peminat bisa menghubungi langsung pelukisnya.”Kita dukung para seniman ini tempat, agar karya mereka bisa tampil dipasarkan,” ujarnya.
Ia berharap  seni lukis di daerah ini terus eksis, karena perkembangan regenerasinya cukup baik juga, tapi sayangnya pemasaran hasil karyanya masih kurang baik, ini yang dicoba diupayakan agar lebih baik.
“Yang terpenting memang pemasarannya, ini yang terus kita upayakan mencarikan solusinya. Sebab banyak karya pelukis daerah kita yang layak dan patut mendapat penghargaan,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis   : Didi GS

Foto       : Didi GS

Anda mungkin juga berminat
Loading...