Museum Wasaka, Rumah Banjar yang Didesain Arsitek Singapura

KEBERADAAN museum sebagai pengingat sejarah, kerap terlupakan begitu saja. Padahal di dalamnya terdapat banyak pelajaran untuk generasi muda, salah satunya wahana mencintai tanah air dari pergulatan sejarah.

SATU di antara Museum di Kalsel adalah Museum Waja Sampai Ka Puting (Wasaka) di Gang H Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Museum berbentuk rumah Banjar tipe bubungan tinggi berbahan kayu ulin tersebut tampak sepi pengunjung dari kalangan umum. Padahal, letak museum ini di kawasan akses jalan besar, di Jalan Pangeran Hidayatullah. Yang kerap datang berkunjung hanya dari pelajar sekolah, selebihnya wisatawan lokal maupun asing yang dapat dihitung jari. “Kalau ada event-event di Banjarmasin, biasanya ada wisatawan asing yang mampir,” ujar Kahfi, seorang pemandu Wisata Sejarah Museum Wasaka, di Banjarmasin, Kamis (16/2/2017).

Menurut Kahfi, Museum Wasaka itu berawal dari rumah warga. Meski tidak berani memastikan, dia menilai rumah tersebut dulunya dimiliki seorang saudagar kaya. Bahkan menurut literatur yang pernah dia baca, rumah tersebut diarsitekturi oleh orang Singapura. Keberadaan rumah tersebut rupanya memincut Ir H M Said –Gubernur Kalsel waktu itu- untuk menjadikannya museum.

“Pada 10 November 1991 bertepatan dengan hari pahlawan, Museum Wasaka diresmikan oleh penggagasnya sendiri, Ir HM Said,” ujar Kahfi.

Sejak saat itu, sambung alumni FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ini, benda-benda bersejarah dikumpulkan, hingga saat ini mencapai 500 benda bersejarah. Namun karena minimnya tempat dan proses perawatan, sebagian ditaruh di gudang. Kendati demikian, semua benda sejarah dipamerkan secara bergiliran di museum selang waktu tertentu.

“Untuk senjata tajam biasanya dilakukan pembersihan skala berkala. Dalam pembersihannya kami sesuai SOP (standar operasional prosedur), menggunakan zat kimia khusus agar tidak merusak benda-benda bersejarah tersebut,” jelasnya.

Lebih jauh Kahfi membeberkan, senjata tajam dan benda-benda bersejarah yang kini disimpan di Museum Wasaka adalah hasil temuan dari pihak pengelola museum  dan hibah dari keluarga-keluarga para pejuang.

“Dan itu tidak mudah. Ya, kami mesti meneliti kebenaran benda bersejarah tersebut. Jadi tidak sembarangan terima,” ujarnya.

Di antara sekian banyak benda-benda bersejarah tersebut, terdapat benda-benda bersejarah milik Brigader Jenderal Hassan Basry, seperti belati dan taji yang dipercayai sebagai senjata syarat kekuatan magis.(jejakrekam)

Penulis : M Bulkini

Foto    : M Bulkini

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...