Ada Tiga Nama Ratu Zalecha, yang Mana Terpilih Jadi Nama RSUD?

NAMA Ratu Zalecha atau Zaleha (dalam aksen suku Banjar, Kalimantan Selatan) kini disematkan menjadi nama rumah sakit umum daerah (RSUD) milik Pemerintah Kabupaten Banjar di Martapura. Dari dokumen yang ada, cikal bakal rumah sakit ini diyakini berdiri pada 1943, dan kemudian dibangun kembali 1963.

HINGGA akhirnya, di era Bupati Banjar Rudy Ariffin mewacanakan merelokasi rumah sakit ini di atas lahan eks Pabrik Kertas Martapura (PKM) di Jalan Menteri Empat, Martapura pada 2003. Selanjutnya, di era Bupati Pangeran Khairul Saleh, pada 2009 dibangun fasilitas pelengkap seperti VIP Intan, serta beroperasi efektif pada 2011.

Lokasi lama RSUD Ratu Zalecha pun dipindah dari lokasi semula di Jalan Achmad Yani Km 41 Martapura, ke Jalan Menteri Empat Martapura, sampai sekarang. Walhasil, pada 21 Agustus 2013, RSUD Ratu Zalecha Martapura menjadi rumah sakit tipe B  sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.03/I/1470/2013.

Lantas siapa gerangan Ratu Zalecha itu? Padahal, dalam catatan sejarah Banjar di Martapura, dikenal ada tiga nama putri bangsawan Kesultanan Banjar itu. Nama yang terilhami dari kisah Nabi Yusuf AS dan Siti Zulaikha, sebetulnya sama-sama memiliki garis keturunan pejuang Banjar.

Untuk nama Ratu Zaleha pertama adalah Putri Bintang Bulan Mandi atau Ratu Rampit, istri Sultan Banjar terakhir, Pangeran Hidayatullah. Putri Rampit ini diberi gelar Ratu Zaleha merupakan putri Raja Dayak Paramasan. Ratu Zaleha ini juga turut bertempur dalam Perang Banjar hingga gugur pada 1862.

Dari perkawinannya dengan Pangeran Hidayatullah, Ratu Zaleha dianugerahi dua anak, yakni Pangeran Cakra Kesuma, dan Ratu Salimah yang juga ‘syahid’ dalam perang melawan kolonial Belanda. Kini, makam Ratu Zaleha ini dkeramatkan suku Dayak Paramasan, hingga anak cucunya sekarang.

Sedangkan, Ratu Zaleha yang kedua adalah putri Sultan Muhammad Seman (Gusti Matseman) bin Pangeran Antasari. Suami Ratu Zaleha adalah Pangeran Muhammad Arsyad (Gusti Arsyad) bin Gusti Muhammad Said bin Pangeran Antasari yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Gara-gara menentang penjajahan Belanda, dan turut bertempur di pedalaman Kalimantan dan daerah aliran Sungai Barito, Ratu Zaleha bersama suaminya, Pangeran Arsyad ditangkap, dan kemudian diasingkan ke Bogor pada 1905. Hingga di masa tuanya, Ratu Zaleha dikembalikan ke Banjarmasin dengan pengawasan ketat Residen Belanda. Ratu Zaleha yang satu ini dalam dokumen sejarah dicatat tak memiliki zuriat (keturunan), dan dimakamkan di Banjarmasin.

Sedangkan, Ratu Zaleha yang ketika adalah putri Pangeran Muhammad bin Pangeran Nuh, Ratu Anom Mangkubumi bin Sultan Adam Al-Wasiqubillah. Ratu Zaleha ini dikenal bersuamikan Raden Wongo yang merupakan Kepala Kesehatan Kerisedenan Belanda di Martapura. Pada 1905, Ratu Zaleha ini bermukim di seputaran Jalan Achmad Yani, di belakang Kantor Pemkab Banjar, sebelum berdiri rumah sakit.

Lantas dari tiga nama Ratu Zaleha atau Zalecha itu? Siapakah yang diabadikan namanya melekat di RSUD Ratu Zalecha?(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS/Berbagai Sumber
Editor Didi G Sanusi
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time