Kemesraan Raffles dan Hare, Sang Penguasa Banjarmasin

Foto : The Bastin Collection

TEORI Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun selalu diajarkan di bangku sekolah itu, sepenuhnya tak benar dan berdasar. Faktanya, Inggris pernah menguasai Indonesia walau terhitung sebentar antara 1811 hingga 1816.

KEHADIRAN Inggris di Nusantara, termasuk Banjarmasin yang dulu menjadi pusat pemerintahan di Tanah Borneo berawal dari kekalahan Gubernur Jenderal Belanda, Herman Willem Daendels (1808-1811), ketika armada Belanda yang dikendalikan penguasa Prancis utusan Kaisar Napaleon Bonaparte, mampu ditaklukkan pasukan Inggris pimpinan Jenderal Auchmuty, lewat peperangan laut di pesisir Laut Jawa.

Begitu kalah, VOC Belanda akhirnya sempat meninggalkan tanah jajahannya, dan menyerahkan pengelolaannya kepada East Indian Company (IEC), maskapai perdagangan milik Kerajaan Inggris. Sebagai penguasa di Nusantara, ditunjuk Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Dia memang masyhur hingga kini sebagai pendiri Singapura. Raffles pula yang membagi-bagi kekuasaan Belanda ini kepada para perwiranya, termasuk Alexander Hare (1812) sebagai resident commissioner Inggris berpusat di Benteng Tatas (kini menjadi kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin).

Apakah yang dibidik Inggris ketika menguasai Tanah Banjar? Berbekal peta-peta kekayaan alam di Pulau Kalimantan, Alexander Hare langsung mendatangkan para buruh imigran penambang timah asal Pulau Bangka dan Belitung ke Tanah Banjar.

Mereka dipekerjakan untuk menggarap areal tambang batubara dan emas yang sempat dikuasai Belanda, kemudian diambilalih Inggris. Dalam jurnal era kolonialisme Eropa, Maluka, Liang Anggang, Kurai dan Pulau Lampai paling disebut-sebut sebagai daerah kaya dengan batubara dan emas.

Kelak para imigran Tiongkok ini akhirnya dikenal sebagai Cina Parit di Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Ya, lewat teknologi parit, para pekerja timah ini berhasil menggali kekayaan dalam perut bumi Maluka Baulin, Liang Anggang, Kurau, Pulau Lampai hingga Pulau Sari. Saat itu, Pelaihari (Distrik Pelaihari) masih di bawah kendali Afdeling Martapura. Sebagai sang kapten China, dipimpin Gho Hiap Seng.

Di mata Raffles, Nusantara adalah tanah harapan, karena informasi itu didapat dari para pedagang Arab dan Tiongkok yang tampak kaya karena memperdagangkan permata seperti intan dan emas. Hal ini tergambar dari catatan harian (diary) Raffles yang disuntng Tim Hannigan, dalam bukunya berjudul Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa (edisi 2015).

Menariknya, mengutip catatan Raffles, ketakutan akan diburu kepala oleh suku asli Borneo, Dayak juga terungkap. Bahkan, menurut Haninggan, Raffles yang belum pernah datang ke Tanah Borneo ini, justru berteori bahwa suku Dayak sebagai ras yang belum terangkat dari barbarisme.

Tak mengherankan, jika Alexander Hare akhirnya yang dikirim ke wilayah bekas kekuasaan Kesultanan Banjar itu. Hare yang lahir di London, pada awal 1780-an ini ditugaskan khusus oleh Raffles untuk menjaga garis pantai Kalimantan agar tetap dalam kekuasaan Inggris. Begitupula, keputusan Serikat Batavia bahwa Kalimantan menjadi objek penelitian karena khazanah kekayaan alam dan budayanya untuk generasi Inggris ke depan.

Pertemuan Raffles dengan Hare di Malaka, keduanya saling mengenal satu sama lain. Apalagi, Hare termasuk petualang Inggris yang cukup mumpuni, karena sudah bolak-balik berlayar di sepanjang pantai Borneo, serta mahir berbahasa Melayu. Tugas khusus kepada Hare dinilai Raffles sangat pantas dengan segudang pengalamannya.

Alexander Hare pun tiba di Banjarmasin pada akhir tahun 1811. Hare yang merupakan anak seorang pembuat arloji di Inggris ini, dalam catatan Raffles merupakan sosok yang ‘playboy’. Terbukti, saat menjadi residen Inggris di Banjarmasin, Hare mengajak seluruh perempuannya ke Tanah Banjar. Padahal, gaya Hare ini jelas bertentangan dengan aturan yang dibuat Raffles, serta Perusahaan India Timur (IEC).

Begitu jadi penguasa Tanah Banjar, Hare juga menerima hadiah wilayah seluas 2.250 kilometer per segi, bukan atas nama Kerajaan Inggris, tapi pribadi dari penguasa lokal. Tapi lagi-lagi, Raffles tak mengambil tindakan terhadap Hare yang sepatutnya sebagai pejabat tak boleh menerima hadiah dari siapapun.

Mengapa hal itu tak dilakukan Raffles kepada Hare? Hannigan memberi catatan bahwa impian Raffles untuk membangun basis kekuatan Kerajaan Inggris kecil di Tanah Kalimantan menjadi pemicunya. Sebab, Raffles sudah mencium gerakan Belanda untuk mengembalikan daerah kekuasaannya di Nusantara, termasuk di Pulau Borneo.

Nah, hubungan khusus Raffles dan Hare, membuat residen Banjarmasin ini begitu terkenal di Batavia. Bahkan, Hare datang ke ibukota kolonial Belanda yang dikuasai Inggris itu dengan kemewahan. Hal ini tentu saja membuat para pejabat Inggris di Batavia, mempertanyakan perlakuan spesial Raffles terhadap Hare. Terbukti, Hare dengan kekayaan timah yang ada di Bumi Kalimantan, justru memilih mencetak sendiri uangnya bukan mendatangkan dari Batavia.

Begitu pula, permintaan Hare agar Raffles mengirim para budak untuk membangun istana di tengah hutan Kalimantan juga dipenuhinya. Ada 100 pekerja yang membangun ‘keraton’ Hare, yang lebih tinggi dari pohon tertinggi dalam setahun.

Lagi-lagi, Raffles pun pada 1813 menandatangani perintah untuk membuang semua narapidana di Jawa ke Bajarmasin, sebagai bagian dari skenario perbudakan ala Hare. Bukan hanya itu, Hare juga menerima subsidi dari Batavia, sebesar 25 rupee per kepala untuk narapidana yang diterimanya.

Nah, keinginan Hare yang terus dipenuhi Letnan Gubernur Batavia itu, membuatnya makin ‘kalap’. Hare mendesak Batavia bukan hanya mengirim narapidana dari Jawa, sebagai ‘budaknya’, namun juga perempuan-perempuan bermoral rendah (baca, pelacur) ke Banjarmasin. Walau ditentang sejumlah perwira Inggris di Batavia, Raffles seakan tak peduli.

Hannigan dalam bukunya berjudul Raffles itu menilai  jelas-jelas hubungan liberal  yang mesra antara Hare dan Raffles merupakan ‘Kejahatan Banjarmasin’. Gaya Hare yang membangun istana kayu di tengah hutan, dikelilingi para koleksi perempuannya, dan pengawalnya yang berasal dari para narapidana Jawa, merupakan bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan.

Kisah Banjarmasin ini baru terungkap lima tahun setelahnya, ketika Raffles tak lagi berkuasa di Tanah Jawa. Hal itu terbongkar ketika Raffles yang memilih pindah ke Bengkulu, menulis surat kepada Gubernur Jenderal Belanda, Baron Van de Capellen bahwa Alexander Hare memiliki sebidang tanah yang diberikan Sultan Banjar, yang harus dikembalikan kepada Inggris.  Peralihan pemerintahan Inggris kepada Belanda, termasuk di tanah jajahan ini adalah buntut dari kekalahan Bonaparte di Leipzig, dan Belanda kembali meraih wilayah kekuasaannya. Sedangkan, Inggris dan Belanda tak pernah berkonflik, hal ini dibuktikan dengan pengibaran bendera kedua negara ini di Balai Gedung Pemerintah di Batavia.

Efektif sejak 1814, Raffles memilih pindah ke Bengkulu, usai  masa berkuasa di Batavia. Sedangkan, Hare masih bertahan sebagai residen Inggris di Banjarmasin. Hingga, Inggris mengembalikan Banjarmasin kepada Belanda pada 1816 dengan dilantiknya IN Nieuwen Huyzen sebagai residen Belanda di Benteng Tatas. Sang penguasa ini juga melakukan pembaharuan perjanjian dan kontrak dengan sultan lokal di Banjarmasin. Awalnya, daerah Banjar Lama (Kuin) dan Banjarmasin bagian Timur masih menjadi bagian dari pemerintahan pribumi di bawah Sultan Banjar berpusat di Keraton Kayutangi Martapura, namun akhirnya diserahkan pada 14 Mei 1826.

Gara-gara pembaharuan kontrak ini, Hare pun terusir dari Banjarmasin. Walau Raffles sempat protes kepada penguasa Inggris, toh pemerintah Inggris tak berminat untuk mengambialih ‘istana’ Hare di tengah hutan yang ditulis Hannigan sebagai tempat menjijikkan. Hal ini dilakukan Inggris agar tak mengganggu hubungan diplomatik dengan Belanda, sebagai sekutunya.  Apalagi, kedua negara ini juga terikat Traktat London (Treaty of London) antara Ratu Belanda dengan Raja Inggris.

Begitu ‘taring kekuasaannya’ dicabut, Hare sempat meminta Belanda mengembalikan properti di Jawa, tapi ditolaknya. Akhirnya, Hare pun memilih berlayar menyeberang Samudera Hindia menuju Afrika Selatan. Lagi-lagi, Hare ditolak Otoritas Gereja maupun pemerintah sipil di Afrika Selatan, akibat melanggar hukum perbudakan saat berkuasa di Banjarmasin.

Diusir terus menerus, Hare pun ingin mewujudkan impian bejatnya-menurut versi Hannigan dengan membangun sebuah rumah di kawasan terpencil di Kepulauan Cocos di Samudera Hindia, berjarak 1.600 kilometer dari Pulau Jawa. Cukup lama Hare menikmati hidupnya di pulau terpencil itu, hingga waktu juga berbicara. Ketika para budak dan gundiknya telah termakan usia, uzur dan tak bisa lagi dimanfaatkan, Hare menyusul Raffles yang tinggal di Bengkulu. Jatuh dari kuda, Hare pun meninggal dunia pada 1835.(jejakrekam)

 

 

.

Penulis Didi G Sanusi
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...