Rasanya yang Asam, Jantik-Jantik si Buah Cantik Idaman Wanita Ngidam

BENTUKNYA bersegi seperti manggis, dengan daging buahnya berwarna orange, rasanya asam kecut terkadang manis. Dengan tangkai buah yang mirip langsat namun ukurannya sangat mini, buah endemik Borneo bernama jantik-jantik kini hadir dijajakan para penjual buah lokal musiman di Kalimantan Selatan.

RASANYA yang asam ternyata paling banyak dicari para wanita yang tengah mengidam. “Saya menjual buah jantik-jantik ini sengaja untuk para pembeli perempuan yang lagi ngidam. Mereka mencari buah ini karena rasanya yang asam, dan terkadang manis,” ujar Arbani, penjual buah lokal musiman, saat menggelar dagangannya di Jalan Perdagangan, Banjarmasin Utara, Sabtu (4/2/2017).

Ia mengungkapkan si buah ‘cantik’ jantik-jantik ini merupakan buah musiman. Artinya, spesies buah itu terbilang langka, dan baru setahun sekali bisa ditemukan di pasaran, ketika masa panen tiba. Arbani mengaku harus berburu ke kawasan Astambul, dan Kalampayan, Kabupaten Banjar, karena warga setempat masih menaman pohon jantik-jantik. “Buah ini sebetulnya berasal dari hutan, tapi bisa dikembangkan di kebun-kebun warga,” kata pria berumur 65 tahun ini.

Pohonnya yang mirip dengan langsat, karena buahnya tumbuh berkembang menempel di batang, bukan di ranting dengan tangkai buahnya yang bercabang dan banyak. “Pohon jantik-jantik ini setahun sekali berbuah. Mirip seperti rambai Palembang, atau ramania,” ucap Arbani.

IKLAN TENGAH

Pria asal Sungai Rangas, Kabupaten Banjar ini mengungkapkan terkadang untuk menu pelengkap dagangan buah lokal, selain buah jantik-jantik dijual pula buah mentega, mandar, dan rambai. “Tapi, saya dapatnya baru buah jantik-jantik, ya melengkapi buah jambu biji dan pelipisan, kedondong serta mangga Banjar,” kata Arbani.

Dengan membandrol harga Rp 5 ribu per dua ikat, Arbani mengaku para peminat buah jantik-jantik masih terbilang tinggi di Banjarmasin. “Tadi, saya bawa 200 ikat, sekarang tersisa belasan ikat. Memang, rasa buah jantik-jantik yang asam kecut ini, hanya orang-orang tertentu yang menyukainya,” tuturnya.

Namun, Arbani punya tips untuk mengurangi rasa asamnya dengan mencocolkan ke kecap manis. Atau, setelah dibeli didiamkan semalam untuk mengurangi rasa kecutnya itu. Proses ‘fermentasi alami’ itu, sedikit demi sedikit akan mengubah zat gula buah jantik-jantik akan lebih dominan.

Berdasar pengalaman Arbani selama berjualan buah lokal endemik Kalimantan Selatan, musim buah ini hanya bertahan 4 bulan sejak Januari dan akan berakhir pada April 2017 nanti. “Makanya, sekarang lagi banjir buah lokal. Biasanya ditandainya dengan datangnya buah durian, tiwadak (cempedak), rambutan, hingga nanti keluar lagi buah-buah lainnya,” Arbani. Nah, jika masa panen buah lokal ini berakhir, Arbani memilih untuk berjualan buah pisang lokal. “Kalau pisang memang tak mengenal musim. Tapi, kalau sudah begitu, saya akan beralih ke pekerjaan lain. Ya, bisa bertani atau bekerja jadi buruh,” ucap Arbani. Ada harapan bagi Arbani agar khazanah buah-buah lokal khas Kalimantan Selatan ini tetap terjaga populasinya, sehingga para penikmat buah tak kehilangan memori dan kenikmatan menyantap daging buah yang kaya vitamin itu.(jejakrekam)

Penulis : Didi GS

Anda mungkin juga berminat
Loading...

Rasanya yang Asam, Jantik-Jantik si Buah Cantik Idaman Wanita Ngidam