Keberanian Tumenggung Jalil yang Menciutkan Nyali Belanda

Foto : Wikipedia

PERANG Banjar yang melebar ke daerah aliran Sungai Barito pada 1859-1906, tercatat adalah pertempuran antara para pejuang Banjar dan Dayak terhadap kolonial Belanda, terpanjang dan membutuhkan dana yang besar.

DULU, di bawah kontrol Alabio, Kabupaten Balangan merupakan bagian dari wilayah administrasi kekuasaan Belanda. Di era kolonialisme itu, lahir beberapa pahlawan yang rela bersilang tanah, demi merebut dan mempertahankan kebebasan, usai Kesultan Banjar dihapus secara sepihak oleh Belanda.

Saksi bisu pertempuran hebat ini masih lestari hingga kini di kawasan Benteng Tundakan, Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan. Dari arena laga perwira ini, tokoh yang dikenal sebagai sang pahlawan adalah Tumenggung Jali. Dari lahir dia dikenal sebagai Abdul Jalil, dan mendapat gelar Tumenggung Macan Negara , dan Kiai Adipati Anom Dinding Raja. Pemuda kelahiran Palimbangan Hulu Sungai Utara, pada 1840, dikenal sebagai ‘martil’ pertempuran Benteng Tundakan pada 24 September 1861. Ketika syahid dalam laga perwira itu, Tumenggung Jali baru berumur 21 tahun.

“Sebetulnya, kisah heroik Tumenggung Jalil, tak kalah dengan para pejuang Banjar lainnya. Gelar Tumenggung Macan Negara dan Kiai Adipati Anom Dinding Raja ini, setelah Abdul Jalil mendapat hadiah tombak berlilit hiasa naga atas keberanian dari Pangeran Hidayatullah, Sultan Banjar yang sah,” ujar peneliti sejarah Balangan, Dharma Setyawan.

Walau tergolong masyarakat jamak, toh Abdul Jalil masih berkerabat dekat dengan penguasa Banua Lima yang memihak Belanda, Adipati Danuraja. “Tumenggung Jali merupakan panglima perang dengan basis pertahanan di Banua Lima. Sejak kecil dia dikenal pemberani dan jawara silat,” kata Ketua Komunitas Historia Indonesia (KHI) Wilayah Kalimantan Selatan ini.

Menurut Dharma, ketika usia yang tergolong remaja, Tumenggung Jalil pernah mengejutkan pihak Belanda, ketika menyerang Desa Tanah Habang dan Lok Bangkai. Dari situ, nama Abdul Jalil cukup masyhur hingga digelari Kaminting Pidakan (jagoan).

Strategi perang yang dimainkan Abdul Jalil juga dipuji Dharma. Menurutnya, sejak 1859, Tumenggung Jalil mengkonsentrasi pasukannya sebagai kekuatan yang menggetarkan Belanda di kawasan Banua Lima. Ada beberapa pos penjagaan yang dikawal ketat para pendukung Abdul Jalil di sekitar Babirik, Alabio dan Sungai Banar, dengan pusat kontrol didirikan benteng di kawasan Masjid Amuntai.

Untuk menghancurkan kekuatan pasukan pendukung Pangeran Hidayatullah di Banua Lima ini, Belanda mengerahkan kekuatan penuh dengan mengirim kapal-kapal perang Admiral van Kingsbergen dan Bernet, dengan pasukan artileri dan serdadu terlatih di bawah pimpinan Mayor Gustave Verspijck.  “Kapal ini penuh dengan meriam. Hingga ketika kapal perang ini tiba di Alabio, karena banyaknya rintangan ketika melintasi sungai, terpaksa diturunkan beberapa sekoci untuk menggempur benteng Tumenggung Jalil di sekitar Masjid Amuntai,” tutur Dharma.

Walau terbilang terjadi pertempuran tak seimbang, Dharma mengungkapkan perlawanan dari pembantu utama Tumenggung Jalil yakni Matia atau Mathiyassin, terbukti mampu mencengangkan pasukan Belanda.

“Mereka dengan gagah berani mengamuk dan menerjang serdadu Belanda yang bersenjata lengkap. Ada ratusan syuhada yang menjadi korban pertempuran di sekitar Masjid Amuntai itu. 44 oran di antaranya dimakamkan di Kaludan,’’ beber Dharma. Begitu terpukul dengan serangan terencana Belanda, Tumenggung Jali memilih mundur dan bergabung dengan pasukan Tumenggung Baro dan Pangeran Maradipa di Benteng Tundakan.

Merasa di atas angin, Belanda kemudian pada 24 September 1861 dikirim 300 serdadu di bawah komando Kapten Van Langen dan Kapten Van Heyden mengepung Benteng Tundakan. Saat itu, menurut Dharma, Tumenggung Jalil bersama Pangeran Antasari dan tokoh pejuang lainnya berjuang mati-matian mempertahankan Benteng Tundakan, walau hanya berbekal 30 pucuk meriam dan senapan.

“Ya, jauh dari peralatan tempur yang dibawa serdadu Belanda. Walau begitu, semangat juang para pejuang Banjar yang haram menyerah baja sampai akhir (haram manyarah waja sampai ka puting), ternyata mampu memukul mundur pasukan Belanda,” kata Dharma. Walhasil, para serdadu Belanda terpaksa mundur.

Nah, beber Dharma lagi, dari pertempuran itu, ternyata Tumenggung Jalil gugur sebagai kesuma bangsa. “Mayatnya ditemukan dalam tumpuan mayat-mayat serdadu Belanda yang jauh berada di luar Benteng Tundakan. Rupaya beliau mengamuk di tengah pasukan musuh, dan menjadi korban peperangan di atas bukit itu,” tutur Dharma.

Ternyata, Belanda masih dendam. Kabar gugurnya Tumenggung Jalil tak memupuskan rasa dendamnya, karena terbukti keberaniannya sempat menciutka nyali kompeni. Berdasar informasi dari seorang pengkhianat bangsa, Belanda akhirnya mengetahui keberadaan makam Tumenggung Jalil.

“Kuburan beliau dibongkar kembali oleh kaki tangan Belanda. Hingga akhirnya, tengkorak Tumenggung Jalil diambil dan disimpan di Negeri Belanda. Sedangkan, sisa dari jenazah Tumenggung Jali dihancurkan. Saat ini, makam Tumenggung Jalil belum diketahui jelas keberadaannya,” tutur Dharma lagi.(jejakrekam)

 

Penulis Sugianoor
Editor Didi G Sanusi