Kaya Batubara, Tapal Batas Bartim-Tabalong Paling Sulit

MENGURAI masalah tapal batas di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Faktanya, saat ini, masalah tapal batas antar kabupaten/kota, hingga dengan provinsi tetangga, Kalimantan Tengah, tak kunjung selesai.

TERCATAT hingga tahun 2017 ini, Pemprov Kalsel bersama dengan Kementerian Dalam Negeri, sudah menyelesaikan permasalahan tapal batas sebanyak 18 segmen. Sedangkan, sisanya masih ada beberapa segmen tapal batas yang masih bersengketa. Contohnya adalah batas wilayah antara Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. Lalu, Kabupaten Banjar dengan Kabupaten Barito Kuala (Batola) yang masih bersengketa. Itu hanya masalah internal Provinsi Kalimantan Selatan.

Belum lagi, soal tapal batas Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan dengan Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Disusul lagi, masalah tapal batas  Kabupaten Barito Timur dan Kabupaten Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah, dengan Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.

“Tahun ini, ada 8 segmen tapal batas yang ditargetkan selesai. Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri terkait percepatan tapal batas. Dalam waktu dekat ini, Tim Kemendagri dan Pemprov Kalsel akan turun ke lapangan untuk mengecek tapal batas yang masih bermasalah itu,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Pemerintahan Setdaprov Kalsel, Hermansyah Manaf di Banjarmasin, Rabu (1/2/2017).

Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdaprov Kalsel ini mengakui  dari 8 permasalahan tapal batas yang ditarget penyelesaian, ada 1 segmen di antaranya yang cukup berat. Sebab, beber dia, permasalahan tapal batas di titik tersebut mengalami masalah yang sangat pelik.

“Sebab, luasan batas wilayah itu sebagian telah ditinggali masyarakat. Tapal batas itu adalah antara Kabupaten Barito Timur, Kalteng dengan Kabupaten Tabalong, Kalsel. Segmen batas wilayah ini yang paling berat, sebab titik yang disengketakan sangat luas,” tutur Hermansyah. Mantan Kepala Badan Kesbangpol Kalimantan Selatan ini mengakui di titik batas itu justru mengandung sumber alam yang melimpah, terutama deposit batubara.

“Di kawasan itu juga ada aktivitas pertambangan batubara. Nah, ini titik batas ini sulit yang diselesaikan. Ya, mudah-mudahan segera bisa diselesaikan,” tutur Hermansyah.(jejakrekam)

Penulis : Riza

Editor  : Didi GS