Banjarmasin Sudah Ada di Abad 7?

BANJARMASIN itu lahir pada 24 September 1526? Hipotesis sejarah yang diungkap guru besar ilmu sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Prof M Idwar Saleh yang melahirkan karya-karya tulis kronologis Kesultanan Banjar di bawah pimpinan sang raja pertama; Sultan Suriansyah tetap jadi rujukan sahih.

SEPERTI adagium sejarah adalah bersifat nisbi, tetap jadi perdebatan hingga kini. Peneliti sejarah FISIP ULM Banjarmasin, Apriansyah yang mengutip jurnal perjalanan I’tsing, seorang pengembara Buddha asal Tiongkok ke India dan berlanjut ke Nusantara pada abad ke-7 (671-685), dengan dua karya monumental berjudul Nan-Hai Chi-Kuei Neifa Chuan (Catatan Ajaran Buddha yang Dikirim dari Laut Selatan), dan Tan-Tang His-Yu Chiufa Kao-Sheng Chuan atau Catatan Pendeta-Pendeta yang Menuntut Ilmu di India, Zaman Dinasti Tang) selesai pada 689-692.

“Banjarmasin itu ada sejak abad ke-7, sebelum kelahiran Kesultanan Banjar di Kampung Kuin,” ujar Apriansyah, beberapa waktu lalu. Dia merujuk catatan I’tsing yang mengabarkan adanya penghuni Pulau Tatas yang berakar  genealogis dari wangsa Mou-Hasin (Mahasena), pelarian atau imigran Kerajaan Kalingga (Keling) asal Kediri, Jawa Timur.

Dosen ilmu pemerintahan yang juga staf khusus Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor ini juga mengutip literature sejarawan Inggris Norton Shaw dkk dalam The Journal of the Royal Geographical Society (1853) serta tulisan John Crawfurd (1856) dalam A Descriptive Dictionary of the Indian Island & Adjacent Countries yang mengartikan Banjar itu merupakan serapan bahasa Jawa yang berarti rumah berbanjar di pinggir sungai.

“Ini berarti nenek moyang orang Banjar itu adalah wangsa Mahasin atau Mahasena yang merupakan orang-orang Galuh sedarah dengan puak warga Sukabumi, Tasikmalaya dan Kuningan,” ujar Apriansyah.

Sedangkan, sejarawan Jawa Barat, Yosep Iskandar justru meyakini warga Banjarmasin merupakan para pelarian keluarga keraton Kerajaan Mahasin di Singapura. “Mereka mengungsi akibat serangan Kedatuan Sriwijaya, hingga membentuk koloni dan mendirikan Kerajaan Banjar Mahasin di Pulau Tatas, sezaman dengan era Kedatuan Sriwijaya pada 671 atau abad ke-7,” tutur Apriansyah yang kini menempuh studi doctoral di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Iklan Samping 300×250

Berbeda dengan sejarawan Dayak, Tjilik Riwut dalam bukunya berjudul Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan (1993), justru mendasarkan usia Banjarmasin itu jauh lebih muda. “Usia Banjarmasin itu harus diukur mulai 14 Februari 1616, ketika Pangeran Samudera alias Sultan Suriansyah mulai menetap di Kuin Utara,” tulis Tjilik dalam buku yang dicetak PT Tiara Wacana Yogya tersebut.

Sedangkan, beber dia, pejabat Belanda terakhir yang memegang Fd Burgermeester Stadagemente Banjarmasin adalah Asisten Residen Tuun Mulder pada Maret 1942. Sedangkan, sejarawan Banjar lainnya, Amir Hasan Bondan berpendapat dalam bukunya; Suluh Sedjarah Kalimantan, dengan riset cukup lama sejak 1925-1953 meyakini Banjarmasin itu lahir pada 1595, ketika Pangeran Samuderan baru bisa menguasai Kerajaan Negara Daha. Hipotesis Amir Hasan Bondan memang mengutip tulisan Dr J Eisenberger dalam bukunya; Kroniek der Zuider-en Oosterafdeeling van Borneo (1936), serta De kroniek van Bandjermasin yang ditulis AA Cense (1928), dan literatur lainnya.

“Usia Bandarmasih sebagai ibukota itu berakhir, pada 1612 ketika dibakar kompeni Belanda, dan terpaksa dipindah ke Kayutangi, Teluk Selong, Martapura. Hingga pada 1771, Kerajaan Banjar memproklamirkan secara resmi ibukota negeri pindah ke Martapura,” tulis Amir Hasan Bondan.

Begitupula, wartawan kawakan era perjuangan Arthum Artha dalam bukunya Sedjarah Kota Bandjarmasin (1970) justru mengukur kemenangan Sultan Suriansyah terhadap agresi militer Belanda yang dikomando Gillies Michelzoon pada 14 Februari 1606, sepatutnya dijadikan dasar usia Pemerintahan Kota Banjarmasin.

Namun, semua hipotesis itu dipatahkan Begawan Sejarawan Banjar, Prof M Idwar Saleh dalam bukunya berjudul Banjarmasin, terbitan Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru (1981/1982), bahwa pendapat Dr Eisenberger yang menyebutkan Banjarmasin lahir pada 1595 atau berdasar Encyclopaedie van Nederlands-Indie serta Colenbrander dalam bukunya; Koloniale Geschiendenis menyebut tahun 1520, tidak bisa diterima secara logis.

“Jika Kerajaan Demak yang membantu berdirinya Kesultanan Banjar pada 1588, padahal saat itu Demak sudah tidak ada. Sedangkan, dari sumber Belanda ketika membakar Banjarmasin pada 1612, mengakibatkan pusat kerajaan dipindang ke Kuliling Benteng kemudian ke Batang Mangapan, dan ke Batang Banyu hulu Sungai Martapura,” tulis Idwar Saleh.

Sang profesor sejarah ini juga mengutip Hikayat Banjar yang ditulis J.J Rass yang mengabarkan penyerangan Belanda itu terjadi di era Sultan Mustain Billah, sultan ke-4 Kerajaan Banjar. “Nah, kalau pendapat Dr Eisenberger benar antara tahun 1588 hingga 1612, yakni 24 tahun berarti ada empat raja yang memerintah Banjarmasin. Yakni, Sultan Suriansyah, Sultan Rahmatullah, Sultan Hidayatullah, dan Sultan Mustain Billah, ini sangat tidak mungkin jika antara datu hingga buyut itu hidup sezaman, padahal buyut sudah dewasa dan menjadi sultan,” tulis Idwar Saleh, membantah hipotesis yang ada. Jadilah, hasil riset mendalam sang Begawan Sejarawan Banjar itu menjadi pondasi kuat bagi Banjarmasin yang diyakini lahir pada 24 September 1526.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
1 Komen
  1. Faris Alrizal berkata

    Sebuah pencerahan bagi kami. Trims

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.